CARA PAKAI MASKER SENSI YANG BENAR

CARA PAKAI MASKER SENSI YANG BENAR

PorJo, Akhir-akhir ini banyak peristiwa alam yang menyelimuti masyarakat khususnya di Indonesia seperti longsor, puting beliung, banjir, bahkan kebakaran turut melalap sebuah mini market yang ada di sebelah barat alun-alun Kemiri pagi tadi (16/1). Hadirnya si jago merah tentunya menimbulkan kerugian yang cukup besar dan menimbulkan dampak polusi udara bagi pengendara karena lokasi mini market yang berada di area Jalan Kemiri – Kutoarjo.

Berbicara mengenai polusi udara bagi pengguna jalan nampaknya bukan hal yang besar walau secara tidak sadar ketika di jalanan sering terkena radikal bebas seperti asap kendaraan bermotor juga debu atau kotoran. Bagi sebagian pengguna jalan raya sudah ramai dijumpai sudah menggunakan masker penutup mulut atau masker wajah saat berkendara. Banyak dari kita yang menggunakan masker praktis (masker sensitive) yang sebenarnya merupakan masker bedah di dunia medis. Masker sensitive identik berwarna hijau dan putih dibaliknya, masker ini sering dipakai masyarakat, namun pemakaiannya masih salah kaprah karena terdapat perbedaan kapan masker warna hijau berada di luar dan kapan warna putih berada di luar. Banyak orang menghiraukan fungsi penting dari bagian masker sensitive.

Dilansir dari brilio.net, dalam beberapa situasi bencana alam seperti kabut asap dan turunnya abu vulkanik, penggunaan masker bedah sebenarnya tidak dianjurkan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). Alasannya, air, udara dan debu masih bisa masuk melalui pori-pori. Masker jenis ini harus diganti setiap empat jam sekali, karena uap air dari pernapasan bisa membuat masker basah dan merusak pori-porinya. Meski demikian, penggunaan masker ini masih lebih baik daripada tidak sama sama sekali asalkan dipasang dengan rapat. Kawat yang ada bagian hidung dibengkokkan dan tidak ada celah pada pinggir-pinggir masker sehingga memungkinkan masuknya material abu vulkanik dari arah samping.

Picture by : brilio.net

Masker yang sebenarnya cocok untuk mencegah ganguan pernafasan adalah N-95 atau N-100. Masker ini menggunakan bahan mirip stereofoam, tebal, memiliki sungkup yang bisa menyaring udara masuk hingga 95 persen. Masker ini juga dilengkapi kawat yang bisa ditekan di atas hidung, sehingga memperkecil celah udara. Masker jenis ini sifatnya sekali pakai, namun bisa digunakan lebih lama, sekitar 2-3 hari. Sayangnya masyarakat tidak senang mengenakannya karena terasa pengap dan harganya 100 kali lebih mahal daripada masker bedah. Satu buah masker N-95 dibandrol sekitar Rp 100.000-Rp 200.000 rupiah. Masyarakat awam tentu tidak banyak yang mampu membelinya.

Arah lipatan masker bedah itu bukan tanpa maksud. Pada posisi warna hijau di luar, arah lipatan adalah ke bawah sehingga tidak membentuk kantong sebagai penampung debu. Jika masker dibalik (bagian putih di luar) dan bagian kawat berada di atas, maka arah lipatannya juga ikut terbalik. Bagian kantong akan mengarah ke atas. Hal itu justru akan menampung debu. Supaya tidak membentuk kantong, maka bagian kawat berada di bawah. Itu artinya bagian hidung tidak menutup dengan rapat. Jadi pembalikkan masker justru lebih banyak mudharatnya daripada manfaat.

Picture by : brilio.net

Setelah kita ketahui fungsi sebenarnya dari kedua bagian masker sensitive maka jangan sampai salah pakai lagi ya,,

SEMOGA BERMANFAAT 🙂

(Dona/AB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *